Saturday, March 23, 2013
Friday, March 22, 2013
Memperingati Hari Ibu
4:45 AM
No comments
Memperingati hari Ibu, saya jadi teringat beberapa jenis Ibu yang pernah saya temui, berikut ini diantaranya :
1. Ibu Boneka
Pada umumnya cantik-cantik dengan suami yang penghasilannya lebih dari lumayan. Kegiatannya tidak jauh-jauh sekitar shopping, spa, pedicure, manicure, diet dan facial. tidak pernah berpikir yang berat-berat, mereka tidak tahu kalau sekarang di Suriah sedang perang dan mereka juga tidak tahu betapa sulitnya upaya pemberantasan korupsi di Indonesia.
Beberapa waktu yang lalu salah satu dari ibu Boneka ini main ke rumah saya naik Pajero warna putih dan dengan ringannya menghabiskan uang berjuta-juta untuk membeli sesuatu yang menurut standar saya tidak penting-penting amat. Para ibu Boneka ini bajunya bagus-bagus, mahal dan wangi.
2. Ibu Derita
Mereka adalah ibu-ibu rumah tangga yang kehidupan ekonominya sepenuhnya bergantung pada suami dan hanya menjalankan tugas domestic mengurus rumah dan anak-anak. Sehingga ketika suaminya selingkuh mereka tidak berdaya sama sekali, hanya duduk meratap di sudut sambil berurai air mata. Ada juga yang mengalami KDRT.
Ibu derita adalah kaum perempuan yang kurang beruntung karena mendapatkan suami yang tidak komit dengan pernikahan.
3. Ibu Biasa
Sama dengan ibu derita tetapi mereka mendapatkan suami yang baik dan penuh cinta.
4. Ibu Karier
Jenis Ibu yang semacam ini umumnya memiliki posisi tawar menawar yang lebih baik di hadapan suami. Punya pekerjaan dan penghasilan sendiri. Semakin seimbang posisi tawarnya semakin stabil pula rumah tangganya. Bahkan tidak sedikit yang jadi tulang punggung keluarga, suaminya menganggur sementara sang istri cari uang dari pagi sampai sore.
5. Ibu Perkasa
Akhir-akhir ini saya sering bertemu dengan Ibu-ibu jenis ini. Mereka berprofesi sebagai pengusaha. Cerdas, trampil, tegas dan cepat mengambil keputusan. Saya terkagum-kagum dengan mereka, sama sekali tidak kalah dibanding laki-laki. Menghadapi ibu-ibu jenis ini saya harus konsentrasi penuh karena cara bicaranya yang lugas dan logis, sedikit kurang romantis. Otaknya seperti kalkulator, bisa menghitung untung rugi dengan cepat.
Mereka memiliki management skill yang bagus. Bisa jadi sekolahnya hanya tamat SMA tapi anak buahnya sarjana. Sanggup menghadapi beberapa masalah secara bersamaan, tahu bagaimana menyusun prioritas dan mempunyai penciuman yang tajam dalam mengendus peluang bisnis.
Sepenuh hati penghargaan dan rasa hormat saya pada kaum Ibu dimanapun anda berada. Tetapi di atas segalanya, para ibu diatas tetaplah wanita, mereka membutuhkan laki-laki dan selalu rindu untuk disanjung dan dipuja, dikibulin dikit tidak apa-apa. Saya teringat lirik lagu anak-anak tentang Ibu :
Kasih Ibu
Kepada beta
tak terhingga
sepanjang masa
hanya memberi
tak harap kembali
bagai sang surya menyinari dunia
1. Ibu Boneka
Pada umumnya cantik-cantik dengan suami yang penghasilannya lebih dari lumayan. Kegiatannya tidak jauh-jauh sekitar shopping, spa, pedicure, manicure, diet dan facial. tidak pernah berpikir yang berat-berat, mereka tidak tahu kalau sekarang di Suriah sedang perang dan mereka juga tidak tahu betapa sulitnya upaya pemberantasan korupsi di Indonesia.
Beberapa waktu yang lalu salah satu dari ibu Boneka ini main ke rumah saya naik Pajero warna putih dan dengan ringannya menghabiskan uang berjuta-juta untuk membeli sesuatu yang menurut standar saya tidak penting-penting amat. Para ibu Boneka ini bajunya bagus-bagus, mahal dan wangi.
2. Ibu Derita
Mereka adalah ibu-ibu rumah tangga yang kehidupan ekonominya sepenuhnya bergantung pada suami dan hanya menjalankan tugas domestic mengurus rumah dan anak-anak. Sehingga ketika suaminya selingkuh mereka tidak berdaya sama sekali, hanya duduk meratap di sudut sambil berurai air mata. Ada juga yang mengalami KDRT.
Ibu derita adalah kaum perempuan yang kurang beruntung karena mendapatkan suami yang tidak komit dengan pernikahan.
3. Ibu Biasa
Sama dengan ibu derita tetapi mereka mendapatkan suami yang baik dan penuh cinta.
4. Ibu Karier
Jenis Ibu yang semacam ini umumnya memiliki posisi tawar menawar yang lebih baik di hadapan suami. Punya pekerjaan dan penghasilan sendiri. Semakin seimbang posisi tawarnya semakin stabil pula rumah tangganya. Bahkan tidak sedikit yang jadi tulang punggung keluarga, suaminya menganggur sementara sang istri cari uang dari pagi sampai sore.
5. Ibu Perkasa
Akhir-akhir ini saya sering bertemu dengan Ibu-ibu jenis ini. Mereka berprofesi sebagai pengusaha. Cerdas, trampil, tegas dan cepat mengambil keputusan. Saya terkagum-kagum dengan mereka, sama sekali tidak kalah dibanding laki-laki. Menghadapi ibu-ibu jenis ini saya harus konsentrasi penuh karena cara bicaranya yang lugas dan logis, sedikit kurang romantis. Otaknya seperti kalkulator, bisa menghitung untung rugi dengan cepat.
Mereka memiliki management skill yang bagus. Bisa jadi sekolahnya hanya tamat SMA tapi anak buahnya sarjana. Sanggup menghadapi beberapa masalah secara bersamaan, tahu bagaimana menyusun prioritas dan mempunyai penciuman yang tajam dalam mengendus peluang bisnis.
Sepenuh hati penghargaan dan rasa hormat saya pada kaum Ibu dimanapun anda berada. Tetapi di atas segalanya, para ibu diatas tetaplah wanita, mereka membutuhkan laki-laki dan selalu rindu untuk disanjung dan dipuja, dikibulin dikit tidak apa-apa. Saya teringat lirik lagu anak-anak tentang Ibu :
Kasih Ibu
Kepada beta
tak terhingga
sepanjang masa
hanya memberi
tak harap kembali
bagai sang surya menyinari dunia
Cimahi Dalam Bingkai 3
4:43 AM
1 comment
Cimahi Dalam Bingkai 3
Di sela-sela kesibukan mengurus usaha, kali ini saya menyempatkan diri mengikuti kegiatan yang tidak biasa. Cimahi Dalam Bingkai 3. Pesertanya adalah sekelompok warga yang peduli dengan sejarah Kota Cimahi.
Saya dan teman-teman sepakat untuk sejenak mengunjungi masa lalu. Voyage dari makam ke makam, dari kuburan ke kuburan, berusaha menggali kenangan dan menyusun puzzle satu demi satu dari cerita dan fakta yang terserak dimana- mana.
Cimahi Dalam Bingkai 3
Susunan mozaik sejarah yang kami temukan sudah tentu masih jauh dari sempurna, tapi setidaknya satu langkah kecil sudah dimulai untuk lebih memahami masa lalu kita.
Yang pertama kami kunjungi adalah Kabuyutan Cipageran, sebuah kompleks seluas 4 hektar, yang terdiri dari pesawahan dan rimbunnya pohon-pohon yang masih kental menggambarkan suasana pedesaan.
Tempat ini direncanakan sebagai miniature dari budaya asli kasundaan yang dulu pernah eksis di Cimahi. Yang sudah terealisasi adalah “batu satangtung” berupa replica dari Lingga dan Yoni lambang keserasian antara pria dan wanita, antara langit dan bumi, antara yang di atas dan yang di bawah antara yang nampak dan tidak Nampak, antara Yin dan Yang. Selanjutnya disini akan dibangun pula miniature suasana pedesaan Sunda beserta segala aksesorisnya seperti leuit, padaringan, halu, jubleg, hawu, pawon dll.
Menurut Aa Fajar sebagai salah satu pengelola Kabuyutan, disini juga akan dibangun beberapa contoh arsitektur bangunan Sunda asli sehingga generasi muda jaman sekarang bisa mengetahui apa yang dimaksud dengan jogog anjing, julang ngapak, limasan, bale nyungcung dan lain-lain. Semoga upaya ini bukan semata-mata untuk memelihara romantisme masa lalu, melainkan menjadi ajang belajar bagi kita semua, karena hanya dengan memahami masa lalu maka kita akan lebih bijak dalam memandang masa depan. Secara rutin pengelola Kabuyutan mengadakan diskusi untuk menggali dan memahami sejarah Kasundaan yang hingga kini belum terungkap seluruhnya.
Tujuan selanjutnya adalah makam Cipageran yang terletak persis berseberangan dengan kuburan Cina Santiong. Disini kami tertegun, suasana mistis langsung terasa, terpesona dengan hawa yang sejuk dan keanggunan pohon-pohon beringin tua, hijau menghampar berikut akar-akar gantungnya yang menjuntai.
Di makam Cipageran ini ada makam Eyang Wira Sutawijaya dan istrinya Eyang Fatimah Sariwangi, konon mereka berdua adalah cikal bakal atau generasi pertama yang melakukan babad alas untuk membangun sebuah desa yang kelak berkembang menjadi kota Cimahi. Ada yang mengatakan bahwa Eyang Wira Sutawijaya sekalipun wujudnya hanya satu orang tapi kuburannya ada dua. Memang cerita, fakta dan legenda saling membelit, bercampur baur jadi satu. Sayang sekali tidak ada literature yang membahas kedua tokoh ini secara mendalam, bahkan Mak Ikah, kuncen kuburan, juga tidak tahu banyak.
Saya juga mendengar bahwa pemakaman ini sering dijadikan tempat untuk tirakat, berpuasa dan tidur dibangunan kuburan selama tiga atau tujuh hari. Salah satu sahabat saya pernah menjalani laku disini, pada malam ketujuh dia mimpi melihat cahaya gemerlapan aneka warna, tak lama kemudian begitu terbangun di tangannya ada sebuah karembong (selendang) yang disulam dengan sangat indahnya, entah datang dari mana.
Disamping itu ada tokoh-tokoh lain dari masa lalu yang juga dimakamkan disini. Ada mBah Sayid, mBah Geleng, Patih Sumedang, Keluarga besar penyanyi Bimbo dan lain-lain. Yang unik adalah makam mBah Geleng, hanya terdiri tumpukan batu-batu tetapi dikelilingi oleh akar menjuntai dari pohon beringin disebelahnya, seolah-olah akar pohon itu sengaja merangkul, membentengi dan melindungi makam tersebut. Misteri alam yang belum terpecahkan.
Tujuan kami selanjutnya adalah kompleks makam mBah Nurkarim di Kel, Cigugur. Beruntung kami bertemu dengan Kang Dadang Ramdhan, salah satu keturunan mBah Nurkarim , beliau bercerita banyak dan sangat membantu memahami sosok mBah Nurkarim dengan lebih baik.
Ratusan tahun yang lalu terjadi eksodus priyayi dari kerajaan Mataram , salah satunya adalah mBah Nurkarim. Tidak begitu jelas alasannya kenapa beliau memutuskan tinggal di kawasan Cigugur Cimahi, tetapi selanjutnya mBah Nurkarim dikenal sebagai salah satu tokoh dakwah terkemuka yang menyebarkan ajaran Islam di Cimahi. Ada yang menduga bahwa mBah Nurkarim adalah bagian dari prajurit Sultan Agung yang ikut serta dalam penyerbuan ke Batavia di abad ke 17, ada juga yang menduga bahwa mBah Nurkarim adalah utusan resmi Kerajaan Mataram di tanah Priangan mengingat bahwa pada saat itu tanah Priangan adalah daerah jajahan Mataram.
Salah satu keturunan dari mBah Nurkarim yang juga menjadi tokoh lokal yang disegani adalah Bapak Haji Abdul Halim yang menjadi tuan tanah di daerah Cigugur, Cibabat. Nama beliau diabadikan menjadi nama jalan di sebelah Kantor Dinas Sosial Prov. Jawa Barat. Sahabat kita Dadang Ramdhan adalah keturunan kelima dari Bapak Abdul Halim.
Yang belum tergali adalah apa sesungguhnya peran sejarah dari tokoh-tokoh tersebut sehingga namanya terukir indah dalam kenangan masyarakat disitu.
Tujuan kami selanjutnya adalah Kampung Cireundeu di Cimahi Selatan. Ciri khas dari peri kehidupan masyarakat Cireundeu adalah secara turun temurun menjadikan singkong sebagai bahan makanan pokok. Masyarakat disini tidak makan nasi beras, melainkan nasi singkong yang diolah sedemikian rupa sehingga rasanya tidak jauh berbeda dengan nasi beras.
Kami diterima dengan keramahan khas masyarakat Sunda pedesaan oleh tokoh-tokoh masyarakat Cireundeu, Abah Widi, Abah Opa dan Kang Yana. Abah Widi menguraikan panjang lebar mengenai sejarah terbentuknya komunitas masyarakat Cireundeu dan filosofi yang mendasari sikap masyarakat yang memilih untuk makan singkong seumur hidup mereka dan tidak makan nasi beras yang terangkum dalam kalimat berikut :
Teu Nyawah Asal Boga Pare,
Teu Boga Pare Asal Boga Beas,
Teu Boga Beas Asal Bisa Nyangu,
Teu Nyangu Asal Dahar,
Teu Dahar Asal Kuat
Apa yang dilakukan oleh masyarakat Cireundeu adalah bentuk kearifan local dalam hal keanekaragaman bahan pangan. Saya bermimpi bahwa santapan nasi singkong ini akan bisa lebih memasyarakat hingga ketahanan pangan menjadi lebih baik. Siapa tahu di kemudian hari akan ada restoran khusus singkong.
Serba sedikit Kang Yana juga menguraikan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Cireundeu yaitu ajaran Madrais yang sering juga disebut sebagai Sunda Wiwitan. Kepercayaan ini diajarkan oleh seorang tokoh dari Kuningan yaitu Madrais kepada Haji Ali yang selanjutnya dilestarikan oleh masyarakat Cireundeu hingga sekarang.
Setelah sesi dialog dan ramah tamah yang berlangsung akrab, kami dijamu dengan macam-macam makanan terbuat dari singkong seperti nasi singkong, buntil, rangining, cookies, kerupuk, dendeng kulit singkong dan lain-lain.
Tidak lupa kami pun berkunjung ke makam para leluhur kampong Cireundeu, sayang namanya tidak bisa diketahui karena batu nisannya tertulis dalam huruf sunda kuno.
Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Sesuai dengan jadwal perjalanan harus diakhiri. Sebagai warga Cimahi ternyata masih banyak hal-hal yang belum kita ketahui tentang segala seluk beluk Kota tercinta ini. Perjalanan sehari ini baru mengungkapkan sedikit hal saja. Masih banyak tokoh-tokoh lain di masa lalu yang patut dikenang karena jasanya, seperti mBah Tumpang, KH Usman Dhomiri, Haji Tadjoedin, Bapak Lurah Aman, mBah Wongso dan lain-lain. Semoga CIMAHI DALAM BINGKAI di kemudian hari bisa terus berlanjut dan diikuti oleh lebih banyak warga menaruh perhatian dan kecintaan pada Kota Cimahi.
Sampai jumpa nanti di CIMAHI DALAM BINGKAI 4 yang akan mengupas lebih jauh mengenai daerah pecinan dan peran masyarakat Tionghoa di Cimahi.
Di sela-sela kesibukan mengurus usaha, kali ini saya menyempatkan diri mengikuti kegiatan yang tidak biasa. Cimahi Dalam Bingkai 3. Pesertanya adalah sekelompok warga yang peduli dengan sejarah Kota Cimahi.
Saya dan teman-teman sepakat untuk sejenak mengunjungi masa lalu. Voyage dari makam ke makam, dari kuburan ke kuburan, berusaha menggali kenangan dan menyusun puzzle satu demi satu dari cerita dan fakta yang terserak dimana- mana.
Cimahi Dalam Bingkai 3
Susunan mozaik sejarah yang kami temukan sudah tentu masih jauh dari sempurna, tapi setidaknya satu langkah kecil sudah dimulai untuk lebih memahami masa lalu kita.
Yang pertama kami kunjungi adalah Kabuyutan Cipageran, sebuah kompleks seluas 4 hektar, yang terdiri dari pesawahan dan rimbunnya pohon-pohon yang masih kental menggambarkan suasana pedesaan.
Tempat ini direncanakan sebagai miniature dari budaya asli kasundaan yang dulu pernah eksis di Cimahi. Yang sudah terealisasi adalah “batu satangtung” berupa replica dari Lingga dan Yoni lambang keserasian antara pria dan wanita, antara langit dan bumi, antara yang di atas dan yang di bawah antara yang nampak dan tidak Nampak, antara Yin dan Yang. Selanjutnya disini akan dibangun pula miniature suasana pedesaan Sunda beserta segala aksesorisnya seperti leuit, padaringan, halu, jubleg, hawu, pawon dll.
Menurut Aa Fajar sebagai salah satu pengelola Kabuyutan, disini juga akan dibangun beberapa contoh arsitektur bangunan Sunda asli sehingga generasi muda jaman sekarang bisa mengetahui apa yang dimaksud dengan jogog anjing, julang ngapak, limasan, bale nyungcung dan lain-lain. Semoga upaya ini bukan semata-mata untuk memelihara romantisme masa lalu, melainkan menjadi ajang belajar bagi kita semua, karena hanya dengan memahami masa lalu maka kita akan lebih bijak dalam memandang masa depan. Secara rutin pengelola Kabuyutan mengadakan diskusi untuk menggali dan memahami sejarah Kasundaan yang hingga kini belum terungkap seluruhnya.
Tujuan selanjutnya adalah makam Cipageran yang terletak persis berseberangan dengan kuburan Cina Santiong. Disini kami tertegun, suasana mistis langsung terasa, terpesona dengan hawa yang sejuk dan keanggunan pohon-pohon beringin tua, hijau menghampar berikut akar-akar gantungnya yang menjuntai.
Di makam Cipageran ini ada makam Eyang Wira Sutawijaya dan istrinya Eyang Fatimah Sariwangi, konon mereka berdua adalah cikal bakal atau generasi pertama yang melakukan babad alas untuk membangun sebuah desa yang kelak berkembang menjadi kota Cimahi. Ada yang mengatakan bahwa Eyang Wira Sutawijaya sekalipun wujudnya hanya satu orang tapi kuburannya ada dua. Memang cerita, fakta dan legenda saling membelit, bercampur baur jadi satu. Sayang sekali tidak ada literature yang membahas kedua tokoh ini secara mendalam, bahkan Mak Ikah, kuncen kuburan, juga tidak tahu banyak.
Saya juga mendengar bahwa pemakaman ini sering dijadikan tempat untuk tirakat, berpuasa dan tidur dibangunan kuburan selama tiga atau tujuh hari. Salah satu sahabat saya pernah menjalani laku disini, pada malam ketujuh dia mimpi melihat cahaya gemerlapan aneka warna, tak lama kemudian begitu terbangun di tangannya ada sebuah karembong (selendang) yang disulam dengan sangat indahnya, entah datang dari mana.
Disamping itu ada tokoh-tokoh lain dari masa lalu yang juga dimakamkan disini. Ada mBah Sayid, mBah Geleng, Patih Sumedang, Keluarga besar penyanyi Bimbo dan lain-lain. Yang unik adalah makam mBah Geleng, hanya terdiri tumpukan batu-batu tetapi dikelilingi oleh akar menjuntai dari pohon beringin disebelahnya, seolah-olah akar pohon itu sengaja merangkul, membentengi dan melindungi makam tersebut. Misteri alam yang belum terpecahkan.
Tujuan kami selanjutnya adalah kompleks makam mBah Nurkarim di Kel, Cigugur. Beruntung kami bertemu dengan Kang Dadang Ramdhan, salah satu keturunan mBah Nurkarim , beliau bercerita banyak dan sangat membantu memahami sosok mBah Nurkarim dengan lebih baik.
Ratusan tahun yang lalu terjadi eksodus priyayi dari kerajaan Mataram , salah satunya adalah mBah Nurkarim. Tidak begitu jelas alasannya kenapa beliau memutuskan tinggal di kawasan Cigugur Cimahi, tetapi selanjutnya mBah Nurkarim dikenal sebagai salah satu tokoh dakwah terkemuka yang menyebarkan ajaran Islam di Cimahi. Ada yang menduga bahwa mBah Nurkarim adalah bagian dari prajurit Sultan Agung yang ikut serta dalam penyerbuan ke Batavia di abad ke 17, ada juga yang menduga bahwa mBah Nurkarim adalah utusan resmi Kerajaan Mataram di tanah Priangan mengingat bahwa pada saat itu tanah Priangan adalah daerah jajahan Mataram.
Salah satu keturunan dari mBah Nurkarim yang juga menjadi tokoh lokal yang disegani adalah Bapak Haji Abdul Halim yang menjadi tuan tanah di daerah Cigugur, Cibabat. Nama beliau diabadikan menjadi nama jalan di sebelah Kantor Dinas Sosial Prov. Jawa Barat. Sahabat kita Dadang Ramdhan adalah keturunan kelima dari Bapak Abdul Halim.
Yang belum tergali adalah apa sesungguhnya peran sejarah dari tokoh-tokoh tersebut sehingga namanya terukir indah dalam kenangan masyarakat disitu.
Tujuan kami selanjutnya adalah Kampung Cireundeu di Cimahi Selatan. Ciri khas dari peri kehidupan masyarakat Cireundeu adalah secara turun temurun menjadikan singkong sebagai bahan makanan pokok. Masyarakat disini tidak makan nasi beras, melainkan nasi singkong yang diolah sedemikian rupa sehingga rasanya tidak jauh berbeda dengan nasi beras.
Kami diterima dengan keramahan khas masyarakat Sunda pedesaan oleh tokoh-tokoh masyarakat Cireundeu, Abah Widi, Abah Opa dan Kang Yana. Abah Widi menguraikan panjang lebar mengenai sejarah terbentuknya komunitas masyarakat Cireundeu dan filosofi yang mendasari sikap masyarakat yang memilih untuk makan singkong seumur hidup mereka dan tidak makan nasi beras yang terangkum dalam kalimat berikut :
Teu Nyawah Asal Boga Pare,
Teu Boga Pare Asal Boga Beas,
Teu Boga Beas Asal Bisa Nyangu,
Teu Nyangu Asal Dahar,
Teu Dahar Asal Kuat
Apa yang dilakukan oleh masyarakat Cireundeu adalah bentuk kearifan local dalam hal keanekaragaman bahan pangan. Saya bermimpi bahwa santapan nasi singkong ini akan bisa lebih memasyarakat hingga ketahanan pangan menjadi lebih baik. Siapa tahu di kemudian hari akan ada restoran khusus singkong.
Serba sedikit Kang Yana juga menguraikan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Cireundeu yaitu ajaran Madrais yang sering juga disebut sebagai Sunda Wiwitan. Kepercayaan ini diajarkan oleh seorang tokoh dari Kuningan yaitu Madrais kepada Haji Ali yang selanjutnya dilestarikan oleh masyarakat Cireundeu hingga sekarang.
Setelah sesi dialog dan ramah tamah yang berlangsung akrab, kami dijamu dengan macam-macam makanan terbuat dari singkong seperti nasi singkong, buntil, rangining, cookies, kerupuk, dendeng kulit singkong dan lain-lain.
Tidak lupa kami pun berkunjung ke makam para leluhur kampong Cireundeu, sayang namanya tidak bisa diketahui karena batu nisannya tertulis dalam huruf sunda kuno.
Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Sesuai dengan jadwal perjalanan harus diakhiri. Sebagai warga Cimahi ternyata masih banyak hal-hal yang belum kita ketahui tentang segala seluk beluk Kota tercinta ini. Perjalanan sehari ini baru mengungkapkan sedikit hal saja. Masih banyak tokoh-tokoh lain di masa lalu yang patut dikenang karena jasanya, seperti mBah Tumpang, KH Usman Dhomiri, Haji Tadjoedin, Bapak Lurah Aman, mBah Wongso dan lain-lain. Semoga CIMAHI DALAM BINGKAI di kemudian hari bisa terus berlanjut dan diikuti oleh lebih banyak warga menaruh perhatian dan kecintaan pada Kota Cimahi.
Sampai jumpa nanti di CIMAHI DALAM BINGKAI 4 yang akan mengupas lebih jauh mengenai daerah pecinan dan peran masyarakat Tionghoa di Cimahi.
Friday, March 15, 2013
Pagi Yang Hujan
5:55 PM
No comments
Cerita Pendek
Di sebuah rumah yang biasa-biasa saja, sepasang suami istri yang biasa-biasa saja sedang sarapan diruang makan yang juga biasa-biasa saja. Di pagi yang hujan ini semua berjalan biasa saja, wajar tak ada yang istimewa. Si suami bertanya pada istrinya, “Tahukah kau, semalam aku sembahyang ?”
Pagi Yang Hujan
Di sebuah rumah yang biasa-biasa saja, sepasang suami istri yang biasa-biasa saja sedang sarapan diruang makan yang juga biasa-biasa saja. Di pagi yang hujan ini semua berjalan biasa saja, wajar tak ada yang istimewa. Si suami bertanya pada istrinya, “Tahukah kau, semalam aku sembahyang ?”
“Aku tahu.”
“Tahukah kau, semalam aku berzikir ?”
“Aku tahu.”
“Tahukah kau semalam aku bahagia ?”
“Aku tidak tahu. Ada-ada saja, keuangan kita pas-pasan, mobilpun hanya Kijang tua yang buruk dan macam-macam masalah sedang mengepung kita dari segenap penjuru. Bahagia dari mana ? Kau menggelikan aku.”
“Uang dan mobil tak ada hubungan sama sekali dengan kebahagiaan. Bahagia tidak tergantung pada harta benda atau ada tidaknya masalah yang kita hadapi.”
“Lalu apa gunanya bahagia yang kau rasakan ? Hidup kita tetap saja susah, tidak berubah.”
“Hidup kita memang tidak berubah, tetapi cara kita memandang hidup itulah yang berubah. Pada dasarnya semua manusia berbahagia tetapi setiap hari mereka menciptakan penderitaan-penderitaan baru bagi dirinya sendiri.”
“Kata-katamu sulit dimengerti. Aku hanya ingin rumah yang lebih luas, mobil yang lebih baik dan leluasa memakai uang belanja.”
“Itulah masalahnya. Kita selalu membanding-bandingkan apa saja yang ada di depan mata dengan apa yang tidak ada. Disitu akar penderitaan yang sebenarnya.”
“Apa maksudmu ? Apakah aku tidak boleh punya keinginan ? Orang hanya akan bahagia kalau semua keinginannya terpenuhi.”
“Kau keliru. Bahagia bukan berarti terpenuhinya semua keinginan-keinginan. Keinginan … entah baik entah buruk selalu menjadi sumber derita. Yang satu terpenuhi akan muncul yang lain, begitu terus menerus. Engkau boleh saja punya keinginan asal disertai kewaspadaan. Kita harus selalu ingat. Boleh saja punya keinginan asal jangan dijajah oleh keinginan.”
Perempuan itu diam, lalu katanya, “Aku tidak setuju. Kalau aku ingin kaya itu adalah keinginan yang baik yang mendorongku untuk bekerja dan berusaha. Kalau aku kaya apapun yang aku mau akan terjadi.”
“Setelah kaya kau akan dikejar oleh keinginan-keinginan yang lain, dan kau akan terperosok dalam lubang yang sama seperti sekarang.”
“Lalu aku harus bagaimana ? Seperti patung ? Diam saja pasrah pada nasib, pada penghasilan yang pas-pasan !”
“Tentu tidak begitu. Kita bukan patung. Untuk apa kita ada kalau tidak hidup, untuk apa kita hidup kalau tidak bergerak, untuk apa kita bergerak kalau tidak manfaat, untuk apa manfaat kalau bukan bagi sesama, untuk apa manfaat bagi sesama kalau bukan karena DIA. Jadi sebetulnya tidak masalah apakah kita ini miskin atau kaya sepanjang kita tetap memenuhi azas yang aku sebutkan tadi. Kaya dan miskin itu sama saja tak ada bedanya. Kekayaan adakalanya merupakan kemiskinan yang menyamar, sedangkan dalam kemiskinan justru tersembunyi kekayaan rahasia. Orang kaya tidak selalu mulia dan orang miskin belum tentu hina.”
“Kata-katamu seperti filosof saja. Pendeknya kalau kau merasa tidak perlu uang dan tidak kepengen kaya, berikan saja semua uangmu untukku. Aku ingin lihat apakah kau dapat membeli bensin dengan kata-kata filsafatmu itu !”
“Lagi-lagi kau salah paham. Sebagian dari diriku ini adalah materi yang juga memerlukan materi. Aku tidak anti materi tapi aku anti materialisme artinya anti terhadap segala sikap hidup yang menomorsatukan materi. Anti materi itu perbuatan kufur, orang yang berbuat kufur namanya kafir. Seperti kau akupun butuh uang. Tapi uang itu sekedar alat saja bukan tujuan. Aku bekerja akibatnya terpaksa aku mendapatkan uang.”
“Terpaksa ? Apa kau mau bekerja tanpa digaji ?” Istrinya terperangarah.
“Ya, terpaksa. Tetapi kalau bekerja tanpa digaji tentu saja tidak mungkin, bukan tidak mau. Karena itu adalah sunatullah. Hukum alam. Kita tak mungkin melanggar hukum alam.”
“Aah bertele-tele ! Sudahlah, berangkatlah ke kantor. Pagi hari jalanan selalu macet.”
Dengan sebuah ciuman di kening mereka berpisah di pintu pagar. Si suami tidak habis pikir, dia hampir tidak pernah sepakat dalam banyak hal dengan istrinya tetapi setiap mereka berpisah terasa betapa rasa rindu menikam-nikam. Alangkah banyaknya hal-hal yang tidak bisa dimengerti dalam hidup ini.
Subscribe to:
Posts (Atom)










