Cerita Pendek
Di sebuah rumah yang biasa-biasa saja, sepasang suami istri yang biasa-biasa saja sedang sarapan diruang makan yang juga biasa-biasa saja. Di pagi yang hujan ini semua berjalan biasa saja, wajar tak ada yang istimewa. Si suami bertanya pada istrinya, “Tahukah kau, semalam aku sembahyang ?”
Pagi Yang Hujan
Di sebuah rumah yang biasa-biasa saja, sepasang suami istri yang biasa-biasa saja sedang sarapan diruang makan yang juga biasa-biasa saja. Di pagi yang hujan ini semua berjalan biasa saja, wajar tak ada yang istimewa. Si suami bertanya pada istrinya, “Tahukah kau, semalam aku sembahyang ?”
“Aku tahu.”
“Tahukah kau, semalam aku berzikir ?”
“Aku tahu.”
“Tahukah kau semalam aku bahagia ?”
“Aku tidak tahu. Ada-ada saja, keuangan kita pas-pasan, mobilpun hanya Kijang tua yang buruk dan macam-macam masalah sedang mengepung kita dari segenap penjuru. Bahagia dari mana ? Kau menggelikan aku.”
“Uang dan mobil tak ada hubungan sama sekali dengan kebahagiaan. Bahagia tidak tergantung pada harta benda atau ada tidaknya masalah yang kita hadapi.”
“Lalu apa gunanya bahagia yang kau rasakan ? Hidup kita tetap saja susah, tidak berubah.”
“Hidup kita memang tidak berubah, tetapi cara kita memandang hidup itulah yang berubah. Pada dasarnya semua manusia berbahagia tetapi setiap hari mereka menciptakan penderitaan-penderitaan baru bagi dirinya sendiri.”
“Kata-katamu sulit dimengerti. Aku hanya ingin rumah yang lebih luas, mobil yang lebih baik dan leluasa memakai uang belanja.”
“Itulah masalahnya. Kita selalu membanding-bandingkan apa saja yang ada di depan mata dengan apa yang tidak ada. Disitu akar penderitaan yang sebenarnya.”
“Apa maksudmu ? Apakah aku tidak boleh punya keinginan ? Orang hanya akan bahagia kalau semua keinginannya terpenuhi.”
“Kau keliru. Bahagia bukan berarti terpenuhinya semua keinginan-keinginan. Keinginan … entah baik entah buruk selalu menjadi sumber derita. Yang satu terpenuhi akan muncul yang lain, begitu terus menerus. Engkau boleh saja punya keinginan asal disertai kewaspadaan. Kita harus selalu ingat. Boleh saja punya keinginan asal jangan dijajah oleh keinginan.”
Perempuan itu diam, lalu katanya, “Aku tidak setuju. Kalau aku ingin kaya itu adalah keinginan yang baik yang mendorongku untuk bekerja dan berusaha. Kalau aku kaya apapun yang aku mau akan terjadi.”
“Setelah kaya kau akan dikejar oleh keinginan-keinginan yang lain, dan kau akan terperosok dalam lubang yang sama seperti sekarang.”
“Lalu aku harus bagaimana ? Seperti patung ? Diam saja pasrah pada nasib, pada penghasilan yang pas-pasan !”
“Tentu tidak begitu. Kita bukan patung. Untuk apa kita ada kalau tidak hidup, untuk apa kita hidup kalau tidak bergerak, untuk apa kita bergerak kalau tidak manfaat, untuk apa manfaat kalau bukan bagi sesama, untuk apa manfaat bagi sesama kalau bukan karena DIA. Jadi sebetulnya tidak masalah apakah kita ini miskin atau kaya sepanjang kita tetap memenuhi azas yang aku sebutkan tadi. Kaya dan miskin itu sama saja tak ada bedanya. Kekayaan adakalanya merupakan kemiskinan yang menyamar, sedangkan dalam kemiskinan justru tersembunyi kekayaan rahasia. Orang kaya tidak selalu mulia dan orang miskin belum tentu hina.”
“Kata-katamu seperti filosof saja. Pendeknya kalau kau merasa tidak perlu uang dan tidak kepengen kaya, berikan saja semua uangmu untukku. Aku ingin lihat apakah kau dapat membeli bensin dengan kata-kata filsafatmu itu !”
“Lagi-lagi kau salah paham. Sebagian dari diriku ini adalah materi yang juga memerlukan materi. Aku tidak anti materi tapi aku anti materialisme artinya anti terhadap segala sikap hidup yang menomorsatukan materi. Anti materi itu perbuatan kufur, orang yang berbuat kufur namanya kafir. Seperti kau akupun butuh uang. Tapi uang itu sekedar alat saja bukan tujuan. Aku bekerja akibatnya terpaksa aku mendapatkan uang.”
“Terpaksa ? Apa kau mau bekerja tanpa digaji ?” Istrinya terperangarah.
“Ya, terpaksa. Tetapi kalau bekerja tanpa digaji tentu saja tidak mungkin, bukan tidak mau. Karena itu adalah sunatullah. Hukum alam. Kita tak mungkin melanggar hukum alam.”
“Aah bertele-tele ! Sudahlah, berangkatlah ke kantor. Pagi hari jalanan selalu macet.”
Dengan sebuah ciuman di kening mereka berpisah di pintu pagar. Si suami tidak habis pikir, dia hampir tidak pernah sepakat dalam banyak hal dengan istrinya tetapi setiap mereka berpisah terasa betapa rasa rindu menikam-nikam. Alangkah banyaknya hal-hal yang tidak bisa dimengerti dalam hidup ini.






0 comments:
Post a Comment